Suatu spesies dinamakan punah bila anggota terkahir dari spesies
tersebut mati. Kepunahan terjadi bila tidak ada lagi makhluk hidup dari
spesies tersebut yang dapat berkembang biak dan membentuk generasi.
Suatu spesies juga disebut punah secara fungsional, bila beberapa
anggotanya masih hidup tetapi tidak mampu berkembang biak, misalnya
karena sudah tua, atau hanya ada satu jenis kelamin.
Di dalam ilmu
ekologi,
istilah kepunahan dipakai untuk kepunahan di suatu studi area. Namun
demikian, sepsies ini masih bisa ditemukan di tempat lain. Fenomena ini
disebut juga
ekstirpasi. Contohnya adalah penempatan
serigala dari tempat lain di Taman Nasional
Yellowstone, di
Idaho,
Amerika Serikat, tetapi sebelumnya serigala sudah punah di tempat itu.
Salah satu aspek penting di tema kepunahan binatang ialah usaha
manusia untuk mengembangkan spesies yang terancam punah (endangered
species) dengan membuat kategori dalam
status konservasi.
Kategori ini memberikan indikasi dari risiko kepunahan suatu spesies.
Salah satu kategori membagi jenis ancaman kepunahan sebagai berikut (1)
kritikal terancam, (2) terancam , dan (3) rawan.
Beberapa Hewan yang sudah Punah di zaman Holodo
Dodo
Dodo berasal dari
Mauritius.
Dodo bergerak lamban dan cukup jinak, sifat yang sebenarnya tidak
begitu bagus untuk bisa bertahan hidup. Dagingnya tidak enak bila
dimakan dan mempunyai hubungan jauh dengan famili
burung merpati.
Ia diperkirakan mempunyai ketinggian 70 cm dan lebar yang hampir sama
dari paruh sampai buntut. Dodo adalah jenis burung yang tidak dapat
terbang. Oleh karena itu, ia meletakkan telurnya di tanah. Tak heran
bila telurnya banyak dimakan hewan yang dibawa oleh manusia di abad
ke-17 ke pulau Mauritius, seperti
babi,
anjing, dan
kedelai.
Dalam waktu yang waktu 70 tahun setelah orang Eropa pertama kali
menginjakkan kaki di Mauritius, Dodo menjadi punah. Dodo diperkirakan
punah pada tahun 1693.
Nasib tragis dodo tidak berhenti sampai begitu saja. Pada tahun 1755, direktur
Museum Ashmolean di
Oxford
memerintahkan untuk membakar eksemplar dodo di museum karena tampangnya
semakin jelek. Ini keputusan yang cukup mengagetkan karena eksemplar
ini adalah satu-satunya yang ada. Seorang pekerja museum yang tidak
setuju dengan keputusan ini mencoba menyelamatkan eksemplar dodo dari
bakar api. Sayangnya, ia hanya berhasil menyelamatkan kepala dan
sebagian dari kakinya.
Akibat dari keputusan yang bodoh ini, kita tidak tahu dengan pasti
bagaimana rupa dodo. Juga kita tidak tahu bagaimana ia berkembang biak,
makannya apa, suaranya, dan lain-lain. Kita juga tidak mempunyai satupun
eksemplar dari telurnya. Informasi mengenai dodo sangat sedikit. Hanya
informasi yang tidak pasti dari pelaut-pelaut dan beberapa lukisan dodo
hasil interpretasi pelukisnya. Tak heran
Hugh Edwin Strickland, seorang
naturalis Inggris, mempunyai komentar ironis mengenai dodo:
"
Kita mempunyai eksemplar yang lebih lengkap dari sauropoda (suatu
jenis dinosaurus) dibandingkan dodo, seekior burung yang hidup di zaman
modern dan yang hanya punya satu tuntutan dari manusia: untuk dibiarkan
hidup dengan tenang."
Sapi Laut Stellers
Sapi laut Stellers adalah jenis
sapi laut yang mempunyai hubungan dengan
duyung. Binatang ini sangat besar; binatang yang dewasa berbobot 10 ton dan bisa mencapai kepanjangan 9 meter.
Georg Steller, seorang botanis
Jerman
yang bekerja di Alaska (dulunya bagian dari Rusia), sangat menggemari
binatang ini. Ia menemukan binatang ini pada thuan 1741 di pulau
Siberia, di depan
pesisir
Siberia. Ia membuat gambar yang sangat detail. Berdasarkan hasil
observasinya, Georg Steller menggambarkan berapa panjang kumis binatang
ini. Entah mengapa, Steller tidak menggambarkan kelamin dari jenis
jantan, walaupun ia menggambarkan secara teliti kelamin dari jenis
wanita. Steller bahkan menyimpan sebagian dari kulit binatang ini,
sehingga ilmuwan bisa mempelajari struktur kulitnya. Ini adalah prestasi
yang cukup luar biasa, dibandingkan kisah dodo di atas. Tak heran,
hewan ini dinamakan dari Georg Steller.
Satu hal yang tidak bisa dilakukan Steller ialah menyelamatkan
binatang ini dari kepunahan. Binatang ini banyak diburu dengan ganas
untuk bahan makanan dan kulitnya dipakai untuk membuat kapal. Lemak dari
hewan ini juga dipakai sebaga bahan dasar pembuatan mentega dan untuk
bahan bakar lampu. Minyak hewan ini tidak mempunyai bau ataupun asap,
juga bisa disimpan lama di suhu yang cukup panas. Pada tahu 1768,
kira-kira 30 tahun setelah binatang ini pertama kali diamati, ia punah.
Burung Kecil dari Pulau Stephen, Selandia Baru
Kepunahan burung ini memberikan contoh bahwa penyebab kepunahan tidak
hanya akibat dari kekejaman manusia, tapi juga kebodohoan. Pada tahun
1894, sebuah
mercu suar dibangun di
pulau Stephen, pulau yang terisolasi berada di selat antara pulau Utara dan Selatan
Selandia Baru. Sebelumnya, pulau ini belum pernah diinjak oleh manusia. Penunggu mercu suar itu, bernama David Lyall, mempunyai seekor
kucing
yang sering membunuh dan membawa burung-burung kecil ke majikannya itu.
David Lyall, penghuni satu-satunya dari pulau Stephen, mengirimkan
suatu eksemplar ke museum di
Wellington.
Direktur museum ini sangat senang, karena burung kecil ini adalah
satu-satunya contoh dari burung kecil yang bisa berkicau dan tidak dapat
terbang. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke pulau Stephen. Sesampainya dia
disana, ternyata kucing itu telah membunuh semua burung kecil yang ada
di pulau itu. Binatang ini menjadi terkenal karena kepunahannya
diakibatkan oleh
seekor makhluk hidup saja, yaitu kucing. Burung kecil ini berburu pada waktu malam, tidak bisa terbang dan memakan
seranga.
Burung ini sangat kecil; paruhnya berukuran 14mm, sayapnya mempunyai
kepanjangan 46-49 mm, dan ekornya 17mm. Jenis jantan sedikit lebih besar
dari jenis betina. Hasil studi
arkeologi
menunjukkan bahwa burung ini hidup di daratan besar Selandia Baru di
zaman dulu. Kemungkinan besar, populasi burung ini punah di daratan
besar akibat kedatangan
tikus yang dibawa orang
Maori.
Hanya sedikit populasi tersisa dari burung ini yang berdiam di pulau
Stephen. Sayangnya, burung ini punah juga pada tahun 1894.